Siang itu, tepatnya hari Jumat lalu setelah beres sholat jum'atan, aku bersama Ali nongkrong di kelas. Lebih tepatmnya bukan nongkrong sih, tapi sedang menyepi. Disana rencananya aku belajar matematika (karena besok UM pelajaran matematika) sambil membuat kaligrafi. Sementara Ali sibuk untuk merencanakan karangan cerpennya untuk salah satu lomba di FIKIR* nanti. Waktu terus berguliur dan akhirnya arlojiku tepat menunjukkan pukul. 14.45.
Disana aku pun mulai jenuh pada kedua pekerjaanku itu. Dan ketika kulihat Ali., nampaknya dia begitu serius mengerjakan torehan cerpennya. Karena jenuh aku pun mulai membuka pembicaraan dengan Ali dan tak mempedulikan apa yang dikerjakan olehnya. Kami pun berbincang-bincang tentang
"Ja, kita pulang dulu yuk." ajak Ali.
"Yuk, tapi kita kesini lagi ya, kerjaanku belum beres." kataku.
Kami pun bergegas kembali ke asrama dan pas pada saat itu, tahrim pun berkumandang. Setelah itu, bergulir kepada adzan ashar dan kami pun sholat ashar di aula. Akhirnya kami pun kembali ke aula pada pukul 15.30. untuk melanjutkan kembali agenda kami.
Ali tertunduk kembali pada cerpennya. Aku malah termenung di bawah rayuan rintik-rintik hujan yang turun dari langit (tapi yang lebih tepatnya, dari awan yang menghitam). Layaknya orang gila, aku senyam-senyum melihat tingkah rintik-rintik hujan itu.
"Loh kok senyam-senyum, ada yang lucu Ja?", kata Ali, masih menggenggam bolpoinnya.
Aku hanya menggeleng.
"Gimana sama Danis?", tanya Ali, sekarang mulai menurunkan bolpoin dari bukunya.
"Loh? maksudmu?" tanyaku, tak mengerti.
"Ah, gimana sih? kan dia marah gara-gara insiden itu ke kamu, boy." jawab Ali.
"Oh, udah minta maaf kok, tapi dia masih dingin gitu Li."
"Asli? waduuh gaswat dong kalo gitu."
"Ngek gaswat gimana? gada yang ngefek buat gue soal itu."
"Emm, aha! i have an idea! gimana kalo kamu kasih surat ke Danis?" Ali berargumen.
"Ngaco aja kamu Li, gila apa. Buat apa coba?"
"Tau ga? kan waktu itu Rizqia nyuratin gue. Yah, sekedar menyemangati buat ujian. Dan darisitu gue bener-bener jadi swmangat ujian boy! Kamu juga Ja, yaa buat mercayain Danis kalo kamu itu bener-bener minta maaf sama dia, boy."
"Emm, rada lago sih. ah gamau ah." kataku menolak.
"Harus Ja! asliiii..."
"Tapi... kalo mau ngasih surat gitu, gimana caranya?"
"Emm...", Ali pun mulai berfikir, dan sekarang bolpoin itu entah berada dimana. yang jelas bukan berada di tangan Ali maupun di atas buku sketsa cerpennya.
Beberapa lama kemudian, "Ja! bener Ja! gimana kalo kamu nulis surat, trus selipin di bangku si Danis, ato ga di bukunya aja, kan ruangan ujiannya efektif banget buat ngasih surat," Ali kembali berargumen, agak rumit.
"Oh sip sip Li, like this yo." kataku agak bersemangat.
Dan dari situ, kami pun mulai merencanakan plan gila itu. Dan beberapa jam kemudian kami sudah mendapat rencana.
1. Sore ini, aku akan membuat surat dengan selipan puisi dari Ali, yang tentunya di dalam surat itu akan memuat tentang kata-kata iseng, ucapan good luck buat ujiannya, dan satu lagi, permohonan buat Danis agar tidak keluar dari Dhe.a*. Waktu pengiriman surat direncanakan pada malam ini, setelah sholat isya dan diselipin di salah satu buku Danis yang ketinggalan di ruangannya.
2. Sama seperti plan yang pertama dan isi suratnya pun sama. Tapi yang ini dibuat olehku sendiri. Dan bedanya, plan ini lebih nekat. Maksudnya waktu pengirimannya direncanakan shubuh/ pagi sebelum anak-anak masuk untuk melaksanakan ujian.
3. Jika waktu terdesak, dan ada hal lain yang tidak memungkinkan untuk mengirim surat, maka planning di cancel dengan terpaksa.
Ali mengerutkan kening ketika menulis plan yang ketiga, tapi tak apa.
#sst... karena aku ketiduran, plan yang pertama gagal.
Keesokan harinya....
Rencana kedua pun dimulai. Aku pergi kelas lebih dulu shubuh itu karena Ali, seperti biasa, suka batal (entah kenapa) ketika sholat berjama'ah di aula. Dan dia harus beberapa kali mengulang sholat di asrama (karena satu dan lain hal).
Tapi ada satu kendala lagi. Shubuh itu, ada beberapa orang putri yang belajar, dan itu pun di ruang ujian Danis. Huufft, dan inilah pekerjaan yang terpaksa kujalankan, menunggu. Satu jam kemudian, Ali pun tergopoh-gopoh masuk ke kelas dan menemuiku.
"Maaf boy, telat, hehe." Ali nyengir.
Kami pun menunggu putri keluar dari ruangan itu sambil melanjutkan agenda kemarin, aku belajar matematika (tentunya tidak konsentrasi, _galau_). Sementara Ali kembali menukikkan pandangannya ke buku sketsa cerpennya, dan kini dengan pensil, bukan dengan bolpoin.
Tiba-tiba Ali berteriak,"Ja hayu Ja! putrinya udah pada keluar!" ALi pun langsung ke lantai bawah dan aku pun menyusulnya dari belakang.
"Oh, iya Li. Apa yah judul yang ucapan yang bagus buat surat ini?" tanyaku.
"Udah aja, Yth. Reydanisa Noor Madania. Simpel aja boy," kata Ali.
"gimana kalau, Ytc. Ratu dari Madinah? kan sama-sama Madinah=Madania," usulku.
"Halah, bener tuh Ja! bagus juga tuh, hehe,"
Berselang beberapa detik, kami pun masuk. Ali lalu menunjuk-nunjuk bangku Danis dan aku mengeluarkan surat itu dari dalam buku. Kami riweuh dan bingung dimana tempat yang strategis untuk menyelipkan surat itu. Yang penting gak diliat sama temen-temennya kata Ali.
Dan pada waktu itu juga, suara derap kaki dan suara-suara putri entah tahu darimana menghantui kami. Sepertinya putri-putri sudah memasuki area kelas. Aku pun buru-buru menyelipkan surat itu di bangku dan Ali menghalanginya dengan buku. Mission succes!
Pada paginya, tepatnya pukul 07.15, setelah beres makan dan mandi, aku berangkat sendirian menuju kelas. Di jalan aku bertemu Bu Asti dan kami berbincang tentang suatu hal yang agak penting sebenarnya: seragam. Setelah masuk ke area kelas, Bu Asti pun masuk ke ruang sekretariat ujian, sementara aku (sendirian) berbelok dan astaga naga... di kelas bawah sudah dipenuhi oleh putri. aku melewati ruang demi ruang menuju ruang atas. Ada yang aneh disitu, setelah kulirik-lirik, banyak mata yang memandangku.. yah.. bisa dibilang pandangan itu sinis. Atau mungkin bukan banyak lagi, tapi semuanya!
Disisi lain, banyak yang nyebut-nyebut nama Danis, tapi suara itu malah hanyut oleh mata-mata yang sinis.
Entah disengaja atau reflek, aku pun setengah berlari menggapai tangga untuk menuju ke lantai atas. Rasa malu kujejaki, aku hanya bisa menutup wajahku (saking malunya).
Bodoh, bodoh, idioot,, aaaahh.... ratapku dalam hati. Kenapa aku harus menuruti Ali untuk bikin surat buat Danis?
Tapi... tiba-tiba ada sesuatu, sesuatu yang menggelitik. Oh ya, surat itu... Ytc. Ratu dari Madinah. Aku tersenyum mengingat itu.
*FIKIR : Forum Interaksi Kajian Ilmiah Remaja, salah satu acara besar yang diselenggarakan kelas empat. Berupa motivasi dan stadium general.
*Dhe.a : bahasa kerennya Darul Arqam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar