Mungkin itu masa lalu, atau mungkin... itu hanya khayalan belaka. atau... aku sedang bermimpi? -entahlah. tapi satu yang pasti, aku takkan larut dan berlama-lama dalam mimpi ini. dan aku harus bangun dari mimpi ini...
Cinta itu memang manis, Day. bisa mengukir kengan yang tak terlupakan, membuat sebuah senyum, kedamaian, kebebasan.... aku selalu berfikir seperti itu...
tapi... kemudian, cinta itu malah membuatku menderaikan air mata kesedihan... dan cinta itu malah menjauh dan menjauh dariku. membuatku semakin sakit dan sakit.
satu tahun kemudian...
Hmm... pagi yang lumayan cerah. dan sekarang aku sudah terbangun dari mimpi-mimpiku. mimpi yang dulu telah menyayat-nyayatku, pedih.
Sekarang momen yang pas untuk membereskan proposal study tour. tinggal menulis data estimasi seksi-seksi juga membereskan lampiran penawaran sponsorship. semuanya akan selesai dengan baik.
Ketika aku sedang cermatnya menulis hal-hal yang kurang di bagian lampiran penawaran sponsorship, ada message masuk ke ponselku. Dari: riza.
"Daeng hasnaaaa, bagian penawaran sponsorshipnya udah selesai?" ungkap isi message itu.
"ini lagi dikerjain kok, sebenernya dikit lagi. tapi ja, ini teh gatau salah gatau bener. yaa aku coba-coba aja dulu."
"oh iya iya, makasih yaa Day,"
"Day? ngga salah?"
"hah? salah apanya? oh gamau dipanggil day yah? iya iya hehe maaf."
"ngga sih, cuman aneh aja ada cowok yang manggil aku Day. tapi gapapa da."
"oh iya atuh Day. eh manggil nana aja gimana? wakakak."
"sejak kapan kamu manggil nana?"
"oh maaf maaf, itu mah panggilan dia buat kamu yah?"
"sst, udah jangan bahas soal dia lagi." hey hey, jangan mengingat soal dia lagi! gerutuku dalam hati.
"musuhan?" tanya riza lagi.
"y" jawabku dengan dingin.
"tiis nyaa, tapi ngga lost contact kan?"
"udah gapernah smsan lagi."
"oh iya Day ma'af udah nanya yang macem2, smsan dongs. masa lost contact gini, gabaik loh."
"maaf kamu udah kebanyakan. insya allah ngga akan."
Aku pun diam. tidak ada message riza lagi masuk ke ponselku. mungkin sedang asyik main game. whatever.
Tapi yang fatal, akibat smsan tadi aku teringat kembali padanya. cinta yang dulu pernah mati. aku pun berhenti mengerjakan proposal study tour. malah termenung ditelan memori-memori masa lalu.
Daay! ayolah. sadaar. kamu takkan bermimpi untuk kedua kalinya kan?
Ya tuhan, bagaimana aku bisa melupakan semua ini? bagaimana? aku sama sekali tidak punya alasan untuk melupakannya. sama sekali tidak.
Aku tahu sekarang. cinta itu emosi, bukanlah definisi. dan aku tahu mengapa aku tak bisa mendapat definisi mengapa aku tak bisa melupakannya, karena emosi dan hatiku mengatakan bahwa aku masih cinta padanya.
dia memberiku alasan untuk tersenyum, hal indah untuk ditertawakan. dan dia juga memberi kenangan indah yang tak bisa dilupakan.
setelah itu, aku cepat-cepat melihat kontak dan mulai mencari nomer ponselnya, nomer ponsel yang telah memberikanku sebuah sweet moment. aku pun memberanikan diri untuk menyapa cinta yang telah lama mati: Banna.